"Striving for peace, freedom, righteousness, and justice based on love."


Berita UKDW


Berita UKDWRSS

TwitterFacebook

Jumat, 15 Juni 2012

Launching dan Bedah Buku “Kerusakan Lingkungan: Peran dan Tanggung Jawab Gereja

UKDW - (15/06) Acara Launching dan Bedah Buku “ Kerusakan Lingkungan: Peran dan Tanggung Jawab Gereja” oleh Drs. Kisworo, M. Sc selaku Dekan Fakultas Bioteknologi UKDW dan Pdt. Dr. A.A. Yewangoe selaku Ketua Umum PGI, dengan moderator Longgena Ginting mampu membuka pemikiran mengenai kondisi alam yang semakin hari semakin memprihatinkan, khususnya di Indonesia. Indonesia yang terdiri dari 17.508 pulau menyediakan banyak sumber daya dan mineral dengan biodiversitas yang tinggi. Semestinya dengan keadaan yang demikian, kehidupan masyarakat menjadi makmur, namun realitanya jauh dari apa yang diharapkan. Berbagai isu tentang kerusakan lingkungan diangkat ke permukaan, seperti laju deforestasi hutan yang mencapai 3 juta ha/th pada tahun 2003, Daerah Aliran Sungai (DAS) yang kondisinya kritis hingga menyebabkan banjir pada musim hujan dan kekeringan di musim kemarau, pencemaran udara, kepunahan spesies, penipisan lapisan ozon yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim yang juga berdampak pada krisis ketahanan pangan.

Ada dasar-dasar teologis mengenai kerusakan lingkungan, namun hanya menjadi wacana tanpa ada kelanjutan aksi. Ada pendapat yang menyatakan bahwa kerusakan yang terjadi bukan karena polusi yang ada, namun tanpa polusi pun bumi akan tetap mengalami kerusakan. Pemikiran ini yang menyurutkan aksi-aksi pelestarian lingkungan.Perubahan bukan dilakukan oleh pemerintah, namun oleh masyarakat sendiri. Mungkin kesadaran masyarakat untuk menanam pohon sudah cukup tinggi, namun mereka melupakan bahwa setelah penanaman harus ada aksi lanjutan, yaitu pemeliharaan.

Selain acara launching dan bedah buku, juga terdapat pencanangan UKDW sebagai green campus. Pencanangan ini disampaikan oleh Ir. Henry Feriadi, M. Sc., Ph. D selaku Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Pengembangan Institusi. Konsep green campus difokuskan pada tindakan warga UKDW untuk mengefisienkan penggunaan energi, mempertahankan pohon-pohon besar di sekitar kampus, serta membangun roof garden. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk merealisasikan rencana tersebut adalah Campus Green Trees, Caring Community, Eco-life Style (misalnya: mengurangi pemakain kertas), dan Community Awareness (pemanfaat lahan menjadi bank pohon).

Di samping bedah buku dan pencanangan UKDW sebagai green campus, dilakukan pula ramah tamah dengan Kementrian Lingkungan Hidup RI yang bertemakan “ Persoalan Lingkungan dan Peran Gereja”. Kementrian Lingkungan Hidup diwakilkan oleh Ir. Ilyas Asaad, M.H selaku Deputi MENLH Bidang Komunikasi dan Pemberdayaan Masyarakat, sedangkan peranan Gereja dalam menanggulangi persoalan lingkungan disampaikan oleh Pdt. Yahya Wijaya, Ph. D selaku Dekan Fakultas Theologi UKDW dan dipandu oleh Pdt. Dr. Djoko Prasetyo A. W, M. Th. Ramah tamah ini membahas mengenai Green Economy sebagai tema hari lingkungan hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2012 yang lalu. Negara kaya menurunkan emisi dengan metode carbon treat, yaitu perdagangan karbon atau pembayaran pada negara dunia ketiga untuk pembuangan limbah ke negara tersebut. Salah satu negara tujuan pembuangan limbah adalah Indonesia. Indonesia dijadikan tempat pembuangan limbah karena perizinannya yang begitu mudah dan tidak ketat, misal pembuangan kondom bekas yang malah digunakan untuk pembuatan karet dan juga mainan anak. Setelah dilakukan penimbunan di suatu tempat, maka lahan-lahan tempat penimbunan limbah tersebut akan direcovery. Selain mencemari lingkungan, permasalahan lain adalah biaya recovery atau perbaikan yang jauh lebih besar dibanding uang yang diperoleh dari negara yang membuang limbah tersebut.

Permasalahan yang timbul di Indonesia dilatar belakangi dengan adanya produk UU yang baik, namun tidak dibarengi dengan implementasi yang baik pula. Permasalahan ini baru dapat diselesaikan jika melibatkan masyarakat dalam membangun lingkungan hidup dan kesadaran bahwa harus ada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pengusaha untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka menyikapi perubahan iklim yang terjadi adalah membentuk dewan nasional perubahan iklim untuk mengefisienkan penggunaan energi nasional hingga 26%, sedangkan yang dapat memaksa pengusaha untuk lebih peduli terhadap lingkungan adalah masyarakat yang memainkan peran sebagai konsumen, misalnya dengan trend memilih produk yang memiliki green label. Peranan dari agama pun dapat dimainkan, misalnya supaya jemaat sadar untuk membeli barang bukan hanya yang murah, tapi juga ramah lingkungan.

Selain sistem, aturan, dan pengetahuan, yang dibutuhkan untuk mendukung perbaikan lingkungan adalah tradisi. Tradisi untuk green life harus dikembangkan untuk hidup yang ramah lingkungan. Gereja memiliki peran menumbuhkan tradisi dan budaya ramah lingkungan tersebut, sehingga dapat memperlakukan alam dengan lebih bermartabat dan mampu mengubah kebiasaan yang semula merusak menjadi lebih peduli pada alam. (Ree)