Menjawab isu kenaikan suhu global yang disebabkan oleh aktivitas perkotaan, Fakultas Arsitektur dan Desain Universitas Kristen Duta Wacana (FAD UKDW) mengadakan kuliah umum pada tanggal 25 April 2019 di Ruang Seminar Pdt. Dr. Harun Hadiwidjono. Acara ini bersifat terbuka bagi mahasiswa aktif di FAD serta wajib bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Fisika Bangunan dan mata kuliah pilihan Advanced Environmental System. Kuliah umum ini mengangkat tema “Fasade Tropis Kontemporer” dan dipandu oleh Agung Murti Haryono, ST., MT., Ph.D., pakar peneliti asal Yogyakarta sekaligus dosen di Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang. Beberapa contoh nyata yang sudah beliau lakukan terkait penelitiannya yakni membuat vertical garden dari tumbuhan herbal seperti seledri atau kumis kucing di rooftop rumahnya dan memasang dinding ganda (secondary skin) untuk menurunkan suhu ruang. Setelah dibandingkan dengan dinding satu lapisan, penggunaan secondary skin terbukti dapat menurunkan suhu hingga enam derajat.

Seringkali arsitektur tropis identik dengan bangunan tradisional yang merupakan maha karya nenek moyang dalam memanfaatkan material alam sekitar. Hunian tersebut kemudian dinilai mampu beradaptasi dengan iklim dan lingkungan sekitarnya. Namun seiring berjalannya waktu, arsitektur kontemporer mulai lebih banyak diterapkan, yakni perancangan arsitektur yang bersifat dinamis dan merupakan kombinasi material konstruksi modern seperti beton, baja, dengan material alam hasil implementasi pada arsitektur tradisional yang efektif menurunkan suhu dalam ruangan. Faktor kenyamanan termal suatu hunian dapat diukur dari suhu, kelembaban, radiasi matahari hingga aktivitas manusia di dalamnya. Menurut SNI 03-6572-2001, hunian yang sejuk dan nyaman memiliki tingkat  temperatur rata-rata sebesar 24o C serta kelembaban 50-80%. 

Di masa mendatang, es di kutub akan habis mencair dan sebagian besar daratan mulai tenggelam. Hal ini disebabkan oleh penggunaan energi berbahan bakar fosil secara besar-besaran yang terus meningkat seiring kebutuhan teknologi yang mempermudah kinerja manusia dan pada akhirnya menghasilkan panas yang tidak dapat disalurkan ke luar angkasa sehingga kembali memantul ke bumi. Usaha-usaha untuk meminimalisir penggunaan energi secara berlebih atau biasa disebut efisiensi energi, seperti penggunaan lampu neon atau skylight alam sebagai pengganti lampu bola pijar, penggunaan peralatan-peralatan modern hemat energi, juga pemilihan lokasi bangunan dan lingkungan untuk pengaturan suhu dan pencahayaan hunian terus dilakukan untuk mengurangi jumlah energi yang dibutuhkan untuk menyediakan produk dan layanan. Fasad arsitektur tradisional mengkini yang banyak menggunakan keunikan karya tradisional dan kekayaan alam serta diaplikasikan pada bangunan masa kini dan menghasilkan hunian yang nyaman menjadi salah satu cara yang juga sering diterapkan. Penghawaan dan pencahayaan alami didapat melalui orientasi bentuk bangunan dalam memanfaatkan energi-energi terbaharukan untuk mencapai kenyamanan termal bagi penghuninya. 

Agung memaparkan secara detail hasil analisisnya dalam bentuk paper dan grafik mengenai perbedaan perlakuan desain pada bangunan tropis di Indonesia. Salah satu penelitian yang sudah dilakukannya menggunakan karya arsitek ternama seperti Paulus Mintarga dengan  “Rumah Rempah Karya” yang didirikan di kawasan Gajahan, Colomadu, Solo, Jawa Tengah. Hal yang ditinjau ialah “Strategi Pendinginan Alami pada Karya Arsitektur Kontemporer” dan kemudian dibukukan menjadi sebuah jurnal. Harapannya, jurnal tersebut akan menjadi sumber ide atau inspirasi desain yang terus berkembang demi keberlangsungan hidup bumi yang ramah lingkungan. Pada dasarnya konsep penghawaan dan pencahayaan di rumah adat tradisional dapat diterapkan di hunian-hunian masa kini. Adanya pembaharuan material tidak akan menghilangkan respon arsitektur terhadap alam.

Sebagai tindakan penyelamatan bumi (go green), tidak hanya bangunan yang dituntut mampu merespon alam tetapi juga kesadaran tiap individu untuk mengubah pola hidup yang merusak alam baik langsung maupun tidak langsung. Contoh perilaku merusak alam tidak langsung adalah dengan terus-menerus menggunakan plastik, menyalakan lampu di pagi atau siang hari dan tidak memanfaatkan transportasi umum dengan baik. Seperti yang dikatakan oleh Agung dalam presentasinya, “Membina bangunan bukan membangun bangunan”. Kuliah umum ditutup dengan penyerahan tanda ucapan terimakasih dan foto bersama. [eva]

Pin It on Pinterest

Share This