Tidak banyak orang Kristen yang akrab dengan laku berpuasa di masa Prapaskah. Beberapa tahun ke belakang laku berpuasa dan berpantang banyak dikenalkan oleh gereja kepada umat sebagai suatu metode untuk melatih dan menggumuli relasi umat dengan Tuhan. Sepanjang masa Prapaskah, umat belajar untuk melepaskan diri dari kelekatan terhadap makanan, minuman, ataupun benda-benda lain yang menimbulkan hawa nafsu yang masih harus dikontrol. Umat boleh memilih, apakah hendak puasa (berhenti makan untuk beberapa jam dalam sehari) atau berpantang (tidak melakukan hal-hal tertentu sebagai bentuk penyangkalan diri). Berbeda dengan umat Islam yang menjadikan puasa sebagai salah satu rukun atau kewajiban dalam keimanannya, bagi umat Kristen, puasa tidak menjadi kewajiban. Puasa merupakan satu bentuk peribadahan, suatu media untuk menyangkal diri dan membuat umat semakin mengarahkan diri kepada Tuhan.

Pembahasan tentang puasa ini menjadi tema dari Ibadah Rabu Abu 2019 Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) yang diselenggarakan oleh Pusat Kerohanian Kampus (PKK). Mengusung tema “Puasa: Latihan Respek dan Empati”, ibadah ini diselenggarakan pada Rabu (06/03) di Kapel Lantai 3 Gedung Hagios. Ibadah ini dilayani oleh Pdt. Hendri Sendjaja, M.Hum., Lic.Th dan Pdt. Nani Minarni, S.Si., M.Hum. Sekitar 200 orang yang terdiri dari dosen, karyawan, maupun mahasiswa UKDW, serta masyarakat umum, mengikuti ibadah ini dan menerima prosesi peneraan abu sebagai simbol kesediaan diri untuk mengarahkan diri kepada Tuhan. Di antara umat yang hadir adalah Annisa Khaerani yang biasa disapa Icha, mahasiswa jurusan Sejarah Kebudayaan Islam angkatan 2016 di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Icha mengaku mendapatkan informasi dari salah satu rekannya yang berkuliah di UKDW tentang ibadah Rabu Abu. Ia tertarik untuk datang karena ingin mengetahui tata cara peribadahan umat Kristen saat memperingati Rabu Abu. 

Perenungan Firman Tuhan diambil dari Yesaya 58:1-12. Melalui khotbahnya, Pdt. Hendri Sendjaja, M.Hum., Lic.Th mengajak umat untuk melihat praktik peribadahan yang dilakukan umat Israel pada saat itu. “Mereka melakukan puasa yang salah sambung. Tuhan Allah menginginkan setiap peribadahan kita dapat sesuai dengan kehendak Tuhan. Tapi bangsa Israel justru melakukan peribadahannya untuk memenuhi kehendaknya sendiri,’ paparnya. Pdt. Hendri Sendjaja, M.Hum., Lic.Th melanjutkan bahwa bukan hanya ketika kita membahas tentang laku puasa, tetapi juga soal  seluruh peribadahan yang kita lakukan, semestinya semua itu dilakukan dengan satu tujuan, yakni semakin mengarahkan diri pada Tuhan. Umat yang mengarahkan diri kepada Tuhan tidak akan mengutamakan dirinya, tidak akan egois dan sombong, tetapi lebih respek dan berempati pada sesama. Pesan khotbah ini semakin diteguhkan kepada umat melalui prosesi peneraan abu yang dilakukan para pendeta kepada setiap umat. Ketika satu orang maju kepada pendeta untuk menerima peneraan abu, sang pendeta mengingatkan sekaligus menguatkan umat melalui kalimat: arahkanlah dirimu kepada Tuhan!

Ibadah Rabu Abu merupakan awal dari rangkaian masa Prapaskah. Momen Rabu Abu merupakan ruang bagi umat untuk menyadari keberadaan dirinya sebagai ciptaan yang fana, yang berasal dari debu abu. Ketika umat memberi diri untuk maju ke depan dan menerima peneraan abu di dahinya, merupakan sebuah simbol atas kesediaan diri untuk diingatkan dan dituntun Allah untuk melanjutkan kehidupan dengan cara yang lebih baik. 

Yulianto Hermawan Saputra, staf Unit Ekspedisi yang hadir dalam ibadah Rabu Abu mengatakan bahwa ia baru pertama kali ikut ibadah Rabu Abu di kampus UKDW dan tahun-tahun sebelumnya belum pernah ikut ibadah Rabu Abu. “Melalui peneraan abu yang saya terima dari Pdt. Nani Minarni, saya merasa bahwa Tuhan tetap mengasihi kita, walaupun kita hanyalah debu,” katanya. Sebagai ciptaan yang kecil dan tak selalu berarti, kita patut bersyukur bahwa Tuhan Allah senantiasa mengasihi kita, Ia menyapa dan merawat iman kita lewat ruang pertobatan yang disediakan-Nya khususnya di masa Prapaskah yang kita jalani setelah ibadah Rabu Abu. (Ester Novaria)

Pin It on Pinterest

Share This