4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. 4:24 Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu. 4:25 Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. 4:26 Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. 4:27 Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.

Salam Sorbum!

Para pembaca yang budiman, kata apakah yang dapat kita gunakan untuk mewakili kualitas dari integritas dan disintegritas seorang manusia itu? Sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab dengan ‘kejujuran’. 

Ada sebuah kisah nyata yang menggambarkan nilai penting dari sebuah kejujuran yang diajarkan seorang ayah pada anaknya. Saat musim panas tiba di Amerika bagian Utara seorang ayah menghabiskan waktu liburan bersama putra tunggalnya. Tiap pagi mereka menyempatkan diri membeli satu eksemplar koran harian pagi di sebuah kios langganan yang jika ditempuh dengan mobil berjarak kisaran 20 menit dari rumah mereka. Cukup jauh memang, tapi hanya kios itu yang terdekat dengan rumah mereka. Kios itu terletak di sebuah kota kecil yang berpenduduk kurang dari 700 jiwa. 

Suatu pagi, berdua mereka pergi ke kios tersebut untuk membeli koran pagi dan beberapa barang kebutuhan harian mereka lainnya. Setelah membayar, mereka segera meninggalkan kios tersebut dan kembali menuju rumah. Ketika hampir 20 menit mengendarai mobil, sang ayah tersadar kalau ternyata tanpa sengaja dia telah mengambil dua eksemplar koran pagi dan hanya membayar satu eksemplar saja. Sang ayah berpikir “…ah…besok saja saya akan bayar kekurangannya”. Tapi beberapa detik kemudian dia mengubah pikirannya dan berkata, “Ah, lebih baik aku kembalikan saja koran satu eksemplar ini ke pemilik kios tadi. Jangan sampai dia menganggap saya sudah berbuat hal yang tidak jujur!” Anaknya mendengarkan apa yang baru saja disampaikan ayahnya dan menemani ayahnya mengembalikan satu eksemplar koran tadi ke pemilik kios yang baru saja mereka kunjungi tadi. 

Selang beberapa hari kemudian, terjadi pencurian uang di kios tersebut. Setelah melaporkan pencurian tersebut ke polisi, sang pemilik kios kemudian dibantu polisi untuk menyelidiki siapa kira-kira pencuri uang di kiosnya. Selidik punya selidik, ternyata ada dua tersangka yang saat itu mereka duga sedang berada di dalam kios saat pencurian terjadi. Seorang tersangka adalah tetangga dekat kios itu dan masih tinggal di kota yang sama, sedangkan tersangka lainnya adalah sang ayah dan putranya tadi. Dua orang ini yang dipercaya ada di kios waktu pencurian terjadi. 

Sang pemilik kios langsung mencoret nama pelanggan pembeli koran yang dengan setia membeli korannya tiap pagi. Sang pemilik kios berkata, “Bagaimana mungkin dia mencuri dariku? Dia rela jauh-jauh kembali ke kiosku hanya untuk mengembalikan satu eksemplar koran harian pagi yang tanpa sengaja diambilnya pada hari itu. Dia tentu bukan pencurinya!” Polisi lantas melanjutkan penyelidikan dan menginterogasi tersangka kedua. Setelah melakukan wawancara dan interogasi intensif, akhirnya tersangka kedua mengakui perbuatannya dan ternyata memang dialah pencuri uang pemilik kios tersebut. 

Sang ayah dan putranya kembali ke rumah mereka dengan perasaan lega karena terbebas dari semua tuntutan. Sang anak belajar bahwa kejujuran ayahnya telah berhasil menyelamatkan nama baik dan keluarga kecil mereka. Kejujuran ayahnya telah meninggalkan kesan mendalam dalam diri sang pemilik kios yang bukan Kristen itu. 

Pembaca yang budiman, integritas yang terwujud dalam tindak kejujuran di atas merupakan sebentuk mutu, sifat, kualitas karakter atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan  kejujuran hati dari dalam diri pribadi sang ayah tadi. Pelajaran berharga tentang kejujuran tadi tentunya juga terpatri dalam hati sang anak sebagai pelajaran hidup yang sangat berharga.

Integritas diri menunjukkan kesatuan antara hati, pikiran, kata dan tindakan

Dalam kita menghayati nilai “berjalan dalam integritas” (walking in integrity) sebagai salah satu nilai inti dari Duta Wacana maka siraman rohani kali ini ingin mengundang setiap pembaca untuk merenungkan poin-poin penting dari nilai integritas diri ini dalam kapasitas kita masing-masing sebagai bagian dari sivitas akademika Duta Wacana dan menghubungkannya dengan bacaan Alkitab kita hari ini.

Bacaan kita kali ini terambil dari kitab Amsal, yang merupakan salah satu dari kitab-kitab puisi dalam Alkitab yang dengan indahnya menyampaikan ajaran-ajaran kebijaksanaan kepada semua pembacanya. Nas bacaan kita kali ini adalah bagian dari perikop Amsal 4:10-27 yang berbicara tentang Dua Jalan. Metafor tentang kehidupan sebagai sebuah jalan dengan dua jalurnya merupakan inti pengajaran penting dari Kitab Amsal. Pengajaran ini dibungkus dalam gambaran pengajaran seorang ayah yang membujuk anaknya untuk secara bijaksana menghindari jalan orang fasik dan memilih jalan terang, lurus, tidak berliku, yang baik dan jalan yang aman demi kehidupan yang diberkati Tuhan. “Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak.” (Amsal 4:10). 

Perikop yang mencakup Amsal 4: 20-27 merupakan bujukan penulis kepada sang anak untuk menerima pengajaran sang ayah karena ajaran ayahnya itu membawa kehidupan dan penyembuhan (Ams 3:8). Berjalan di ‘jalan kebijaksanaan’ membutuhkan rasa mawas diri yang tajam, disiplin diri dan kesatuan pikiran dan tujuan hidup. Tiga hal ini merupakan pilar dari integritas diri yang kuat dan diibaratkan sebagai tubuh yang sehat. Bagian-bagian tubuh seperti hati, mulut, mata dan kaki satu demi satu ditelusuri karena menurut penulis Amsal bagian-bagian tubuh ini bisa saja menjadi sumber kejahatan dan kematian, namun juga bisa menjadi sumber kebaikan dan pelestari kehidupan (band. Amsal 6:16-18). Jika semuanya sehat maka seluruh tubuh akan menjadi sehat. 

Pembaca yang budiman apa yang dapat kita pelajari tentang integritas dari bacaan kitab Amsal ini? Duta Wacana telah menetapkan nilai “berjalan dalam integritas” sebagai salah satu nilai utama ke-Duta Wacana-an. Integritas diri ini menunjukkan kesatuan antara hati, pikiran, kata dan tindakan. Atau lebih tepatnya lagi integritas bermakna tindakan sadar untuk memilih pola pikir dan jenis tindakan yang akan diambil dengan berdasarkan pada nilai-nilai luhur kehidupan dan bukan demi keuntungan pribadi. 

Lawan dari integritas adalah disintegritas yang bermakna penguraian satu benda ke partikel-partikel yang lebih kecil, penghancuran, kesatuan yang dipecah-belah. Bagi penulis kitab Amsal ini berarti kondisi tubuh rohani yang sedang tidak sehat atau terancam ambruk. Atau jika dengan menggunakan analogi Dua Jalan dari kitab Amsal maka disintegritas di sini bisa dimaknai sebagai keputusan sang anak untuk tidak mengikuti anjuran kebijaksanaan sang ayah untuk memilih jalan hikmat (Ams. 4: 11) dan lebih memilih jalan orang fasik. Jalan orang fasik atau jalan disintegritas ini digambarkan layaknya seseorang yang 24 jam dalam seminggu selalu gelisah bila tidak berbuat jahat (ay. 16a). Jalan disintegritas membuat orang tidak punya rasa kantuk karena yang ada dalam pikiran mereka hanyalah 1001 macam tipu-muslihat agar orang lain masuk jeratnya dan tersandung jebakannya (ay.16b). Perut mereka dipuaskan makanan dan minuman hasil kefasikan dan kelaliman mereka (ay.17).  

Pembaca yang budiman, apakah relevansi dari renungan tentang integritas versus disintegritas bagi kita sivitas akademika Duta Wacana saat ini? Menurut saya, integritas ini patut ditegakkan demi munculnya sebuah jati diri Duta Wacana yang jelas di tengah segenap kerancuan dan ketidakjelasan jaman yang bergerak cepat ini. Integritas insan Duta Wacana tidak hanya dipertaruhkan demi semakin mantapnya proses akreditasi UKDW sebagai salah satu universitas swasta yang patut diperhitungkan dalam konteks dunia perguruan tinggi di Indonesia. Jika seandainya UKDW harus jatuh bangun dalam mempertahankan akreditasi tiap-tiap program-program studi yang dimilikinya, janganlah ini semua dilakukan dengan mengorbankan integritas diri kita sebagai insan dan warga sivitas akademika Duta Wacana. 

Semoga renungan kita bulan ini bisa menjadi cambuk bagi kita sekalian untuk kritis dalam melakukan evaluasi dan refleksi diri tentang sejauh mana pemaknaan nilai “berjalan dalam integritas” itu dilakukan dalam setiap sendi kehidupan di lingkungan Duta Wacana ini. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh penulis kitab Amsal hendaklah kiranya jalan kebijaksanaan yang kita pilih dalam mengupayakan integritas diri yang berkarakter kristiani, kokoh, dan tahan banting. Kiranya Tuhan memberkati kita, tiap insan Duta Wacana, untuk menjadi pribadi yang berintegritas tinggi dan proaktif dalam memperjuangkan nilai-nilai ke-Duta Wacana-an hari lepas hari. 

Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

(Adham K. Satria, PKK_UKDW)

Berlangganan Newsletter Kami

Bergabunglah dengan milis kami untuk menerima kabar terbaru dan update dari tim kami.

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Share This