Pusat Kerohanian Kampus Universitas Kristen Duta Wacana (PKK UKDW) menyelenggarakan Program Pengembangan Spiritualitas Mahasiswa (P2SM) 2019 yang berlangsung di Desa Rogomulyo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 3-5 Mei 2019. Kegiatan ini diikuti oleh 50 mahasiswa perwakilan dari setiap Unit Kegiatan Kerohanian (UKKR) Mahasiswa. UKKR yang mengirimkan utusannya yaitu Persekutuan Mahasiswa Kristen Soli Deo Gloria (Fakultas Bisnis), Persekutuan Mahasiswa Kristen Teknik Arrow Generation, Persekutuan Mahasiswa Kristen Kedokteran Agape, Persekutuan Mahasiswa Kristen Bioteknologi, Komunitas Mahasiswa Muslim (KMM), Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD), Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) UKDW, Keluarga Mahasiswa Katolik Kedokteran Santo Rafael, Keluarga Mahasiswa Buddhis (Kamadhis) Duta Dharma, English Fellowship Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, juga ada utusan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UKDW, Badan Perwakilan Mahasiswa UKDW (BPMU), BEM Fakultas Teologi, serta Tim Ibadah Kampus UKDW.

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk live-in di pesantren, kegiatan P2SM 2019 diisi dengan live-in di rumah warga Desa Rogomulyo dengan mengusung tema “Aku Beraksi, Aku Bersaksi”. Desa Rogomulyo dipilih karena kondisinya yang begitu plural. Desa ini didominasi oleh masyarakat Islam, tetapi ada juga masyarakat Kristen, Katolik, dan Hindu. Dalam kondisi seperti demikian, warga desa Rogomulyo lebih memilih untuk dipimpin oleh seorang kepala desa yang juga berstatus sebagai pendeta yaitu Pdt. Timotius Trimin, yang melayani di GKJ Susukan, Rogomulyo. Di tengah kondisi bangsa Indonesia yang dihebohkan dengan politik identitas mayor-minoritas, desa ini justru menjalankan kehidupan yang berbeda, mereka bisa merayakan perbedaan dengan hidup berdampingan dalam kedamaian. Harapannya, konteks masyarakat seperti ini dapat melestarikan harapan para mahasiswa tentang gambaran masyarakat Indonesia yang ramah dan damai. Selain itu, para mahasiswa juga didorong untuk menghadirkan diri di masyarakat dengan aksi sosial yang progresif dan berdampak bagi masyarakat. Kegiatan P2SM 2019 ingin memberikan pemahaman bahwa aksi sosial juga dapat menjadi jalan bagi mahasiswa untuk mengembangkan spiritualitasnya. 

Di hari pertama, rombongan mahasiswa diterima oleh perangkat desa kemudian dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk dititipkan ke 15 keluarga di desa Rogomulyo. Mereka diberi waktu untuk berinteraksi dengan keluarga masing-masing hingga esok siang. Hari kedua acara baru dimulai jam 10.00, peserta mengikuti tiga sesi talkshow. Sesi pertama talkshow dengan perangkat desa Rogomulyo. Sesi ini bicara tentang konteks kehidupan mereka yang dipenuhi perbedaan. “Sejak dari dulu kami memang hidup di tengah perbedaan, tapi kami punya hal yang mengikat yaitu sejarah dan budaya toleransi yang ada dan tidak bisa dihilangkan,” kata Santoso, kepala Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Rogomulyo yang juga hadir sebagai salah satu narasumber. Ketika ditanya tentang latar belakang mengapa masyarakat desa Rogomulyo yang lebih banyak beragama Islam percaya untuk dipimpin pendeta, Santoso mengatakan bahwa desa Rogomulyo tidak mementingkan agama dalam mencari pemimpin, yang penting itu kualitas kepemimpinannya.

Sesi kedua talkshow dengan para pemuka dan tokoh agama Kristen (Pdt. Timotius Trimin), Islam (Kyai Joko Suwarno), Buddha (Sugiyatno, S.Ag., M.Pd.), dan Hindu (I Nyoman Santiawan, S.Pd, M.B.A.). Sesi ini bicara tentang ajaran dari agama masing-masing yang dapat menjadi atau memberi dasar pada aksi sosial. Sesi ketiga talkshow dengan komunitas Little Hope Indonesia, sebuah komunitas anak muda di Salatiga yang fokus melakukan aksi sosial di bidang pendidikan dengan memberikan bimbingan belajar gratis pada murid-murid SD dan SMP di beberapa desa di Salatiga. Dalam sesi ini rekan-rekan dari Little Hope Indonesia membagikan visi dan misi mereka dalam melakukan aksi sosial. Rekan-rekan dari Little Hope Indonesia juga mendorong peserta P2SM untuk membuat komunitas untuk bergerak di bidang apapun untuk menyatakan kebaikan dan membantu banyak orang. 

Hari ketiga diisi dengan kegiatan “We are in Action”. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk beraksi lewat pojok kesenian, kesehatan, permainan, edukasi, religius, dan kerajinan tangan. Bersama dengan Karang Taruna di desa setempat, peserta menyiapkan aksinya untuk melayani dan menghibur masyarakat dengan lintas usia. Seluruh rangkaian kegiatan P2SM 2019 kemudian ditutup dengan penulisan refleksi secara personal dari tiap peserta, lalu ada ritual Doa Lintas Iman yang diisi dengan pendarasan kitab-kitab suci oleh beberapa peserta yang mewakili agamanya masing-masing. Dalam refleksi yang dituliskan peserta, banyak yang mensyukuri pengalaman tinggal bersama masyarakat. Penerimaan dan keramahan yang ditunjukkan warga desa yang yang tak selalu seagama dengan mereka membuat para peserta belajar tentang toleransi secara langsung. Elvin Daniel Hia, salah satu peserta P2SM 2019 dari PMK Soli Deo Gloria, menuliskan dalam refleksinya bahwa ia sudah mengikuti P2SM ini selama tiga tahun berturut-turut dan ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga tentang pluralisme agama. Ia belajar untuk menghargai perbedaan. “Kegiatan ini memacu saya untuk bersaksi dan beraksi di tengah masyarakat supaya hidup saya lebih berdampak dan bermanfaat untuk orang lain,” tulisnya di dalam refleksinya. (Ester Novaria/Pusat Kerohanian Kampus)

Berlangganan Newsletter Kami

Bergabunglah dengan milis kami untuk menerima kabar terbaru dan update dari tim kami.

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Share This