Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) turut serta dalam Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa – Tingkat Menengah (LKMM-TM) yang diselenggarakan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V secara daring via Zoom pada tanggal 28 sampai dengan 30 April 2020. LKMM-TM merupakan program atau kegiatan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan manajerial organisasi bagi mahasiswa khususnya yang aktif berorganisasi serta membekali mahasiswa dengan wawasan dan keterampilan mengkoordinasi dan membina tim kerja dalam suatu kelembagaan.

Kegiatan diawali dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D. selaku Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (BELMAWA) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Prof. Dr. Didi Achjari, S.E., M.Com., Akt. selaku Kepala LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta. Adapun aktivitas dalam LKMM-TM LLDIKTI Wilayah V tersebut terdiri atas sesi materi dan kegiatan interaktif berupa tugas dan proyek yang tentu juga dilakukan secara daring.

LKMM-TM berlangsung selama 51 jam yang terdiri atas sembilan materi atau bahan kajian yang disampaikan secara integratif diawali dengan Program Bidang Kemahasiswaan oleh Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D., LKMM oleh Dr. Ir. Budi Utomo Kukuh Widodo, M.E., Literasi Digital oleh Siti Nurul Hidayati, S.Pd., M.Pd., Manajemen Pengelolaan Informasi, Komunikasi, dan Masalah Organisasi oleh Dr. Rimbawan, Multi Kultur dan Membangun Integritas oleh Prof. Dr. Mahmutarom Harun al Rasyid, SH., MH., Kebijakan Ketahanan Bangsa oleh Dr. Ir. H. Encik Akhmad Syaifuddin, MP., Mitigasi Bencana oleh Ir. Bambang Sulistiyanto, M.AgrSc., Ph.D., Penerapan Program Kemahasiswaan Menuju Indonesia Maju 2045 oleh Dr. Misbah Fikrianto, S.Pd., MM., dan Literasi Dasar Covid-19 oleh Ketua Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI).

Total peserta yang mengikuti LKMM-TM ini adalah sejumlah 100 orang dari seluruh perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mana empat orang diantaranya merupakan perwakilan dari UKDW yakni Anggel Christia Dolonseda dari Fakultas Bioteknologi, Brian Sineleyan dari Program Studi Manajemen, Lawrence Billy V. Dj. dari Fakultas Bioteknologi, dan Ranti Herlina Sandi dari Program Studi Manajemen. 

Lawrence Billy V. Dj. yang merupakan salah satu perwakilan sekaligus Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) merasakan manfaat dari keikutsertaannya dalam LKMM-TM ini. Program kemahasiswaan seyogyanya harus adaptif seiring dengan perkembangan zaman, dimana dalam implementasinya bentuk kegiatan dan program kerja yang diselenggarakan oleh masing-masing organisasi kemahasiswaan tidak sama tiap tahunnya tetapi berbeda baik itu secara bentuk kegiatan ataupun modifikasi, perubahan itu diharapkan membuat mahasiswa tidak hanya monoton tetapi “dipaksa” untuk terus berinovasi dimulai dari lingkungan kegiatan organisasinya. Pilihan kemudian hanya menjadi dua bagi mahasiswa, yakni “terpaksa” berinovasi atau tidak mau untuk berinovasi secara “terpaksa”, tetapi bila ingin tetap survive dan eksis maka kita harus terus berinovasi sekalipun itu dalam “keterpaksaan”.  Mahasiswa memang didorong untuk berperan aktif dalam merespon hal-hal yang sifatnya politik tetapi dengan pendekatan ilmiah dan bukan dengan pendekatan sporadic dengan turun ke jalan. Persoalan bangsa adalah persoalan besar dan kompleks sehingga dalam menyelesaikannya perlu dilihat secara holistic dan integratif, bukan secara parsial dan separatif, untuk mampu melihat kasus secara holistic dan integratif itu hanya bisa dicapai melalui kajian yang komprehensif, bukan sekedar diskusi santai, maka kita harus mengasah kemampuan akan literasi khususnya yang digital sebab dengan kemampuan akan literasi digital bisa menjadi solusi akan keterbatasan ruang dan waktu untuk mendapatkan informasi guna untuk pengembangan pribadi maupun komunal. Lanjut dari pada itu manajemen pengelolaan informasi dan komunikasi organisasi kemahasiswaan dewasa kini sudah harus bergeser dari cara-cara yang konvensional menuju ke cara-cara digital dengan memanfaatkan Internet of Things (IoT). Pemanfaatan aplikasi berbasis online membuat masalah dan kendala administratif di organisasi menjadi minim dan sebaliknya dapat membantu meningkatkan efektivitas organisasi dalam bekerja sebab akses informasi dan komunikasi tidak terhambat lagi akan ruang dan waktu karena bisa dilakukan dan diakses kapan saja dan dimana saja baik secara individu ke individu yang lain maupun kelompok ke kelompok.

Dalam hal berbangsa dan berbudaya Billy menyebutkan bahwa era globalisasi adalah era berbagi, dimana komunitas tertentu berbagi informasi, pengetahuan dan kebudayaan ke komunitas lain untuk bisa terus survive. Hal tersebut kemudian membuat masing-masing komunitas rentan untuk bisa mempertahankan identitasnya sehingga terjadilah akulturasi budaya. Hal inilah yang mengharuskan kita sebagai bangsa Indonesia untuk memiliki integritas yang kuat akan jati diri kita dalam berbangsa dan berbudaya sehingga informasi, pengetahuan dan budaya yang kita terima dari komunitas yang lain tidak merubah kita dalam menyongsong masa depan tetapi memperlengkapi kita dalam menyongsong masa depan. 

Sumber daya manusia yang menentukan kualitas pertahanan bangsa. Bangsa tidak hanya berperang dengan bangsa lain yang wujud dan subjeknya jelas, tetapi juga bisa berperang dengan hal yang wujud dan subjeknya tidak jelas bahkan tidak terlihat, contohnya yang sekarang sedang kita alami sekarang yakni perang terhadap Covid-19. Untuk menghadapi musuh-musuh seperti itu, mengandalkan kekuatan adalah sikap yang tidak bijak. Diperlukan ilmu pengetahuan dan kemampuan berpikir untuk menghadapinya dan menang. Maka kualitas pendidikan berperan penting dalam membekali manusianya dengan pengetahuan yang bermutu dan berkualitas sehingga pertahanan bangsa menjadi kompleks baik itu dari musuh yang berwujud dengan subjek yang jelas ataupun dengan musuh yang tidak berwujud dengan subjek yang tidak jelas. Hal ini penting sebab kita hidup di dunia yang berbahaya, daerah yang berbahaya, rumah yang berbahaya, dan bahkan bekerja dan belajar di kampus yang berbahaya. Untuk itu kewaspadaan kita perlu untuk ditingkatkan agar faktor-faktor penyebab bahaya tidak berkembang menjadi bencana, maka mitigasi akan bencana menjadi penting sebagai wujud kewaspadaan. Pengetahuan akan mitigasi bencana juga merupakan salah satu wujud pertahanan bangsa akan musuh yang tidak jelas bentuk dan subjeknya.

Salah satu dari kegiatan interaktif yang dilakukan adalah poster peluang di tengah pandemi sebagai output dari salah satu materi oleh Dr. Rimbawan dengan judul “Jogja PSBB? Mungkinkah?”. Topik ini dipilih sebagai wujud kritik terhadap masyarakat yang daerahnya memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). PSBB bertujuan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 dengan cara membatasi aktivitas orang-orang dalam suatu kegiatan yang menimbulkan suatu kerumunan atau yang melibatkan orang banyak dengan harapan akan menurunkan kurva infeksi positif Covid-19, tetapi pada realitanya daerah yang memberlakukan PSBB tidak mengalami penurunan infeksi positif Covid-19 secara signifikan bahkan ada beberapa daerah yang malah tetap mengalami peningkatan infeksi positif Covid-19. Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus Raja Kraton Ngayogyakarta yakni Sri Sultan Hamengkubuwono X mewakili kritik tersebut dengan pernyataan “Ini bukan persoalan PSBB, ini persoalan kedisiplinan dan kepatuhan, Covid-19 ora ono obate”.

Pada akhirnya Billy berpesan kepada seluruh pejabat organisasi kemahasiswaan dan seluruh mahasiswa UKDW untuk jangan terlalu berfokus pada kapan PSBB akan diberlakukan atau menunggu kebijakan lanjutan pemerintah dan universitas ditengah pandemi ini, selama vaksin belum ditemukan dan obat spesifik belum ditemukan lebih baik kita mempersiapkan diri untuk hidup dengan Covid-19. Kita harus bergerak pada paradigma normal baru atau kebiasan normal baru (new normal) apabila at the worst case vaksin tidak ditemukan. Jangan ragu untuk berpikir sampai kesana sebab ada juga penyakit yang sampai hari ini tidak ada vaksinnya, DBD dan HIV misalkan, tetapi kan kita tetap bisa hidup dengan DBD, kita tetap bisa hidup dengan HIV. Billy juga menyampaikan bahwa “Berpikirlah untuk tetap belajar berdampingan dengan Covid-19 tanpa menabrak protokoler kesehatan, rancanglah program kerja yang tetap bisa berjalan beriringan dengan Covid-19 tanpa mengesampingkan protokoler kesehatan. Jangan jadikan Covid-19 dalih untuk tidak produktif, kita harus membuktikan bahwa kita tetap kompetitif di tengah Covid-19 sebagai wujud amalan akan nilai UKDW yang ketiga yaitu Striving for Excellence.” (BPMU/Billy)

Pin It on Pinterest

Share This